Selama masa kerja saya di beberapa organisasi, beruntung saya mendapat kesempatan untuk terlibat dalam proses rekrutmen – meski profesi saya bukan dalam bidang HRD. Dari sini saya tahu bahwa satu posisi lowongan kerja diperebutkan ratusan orang. Proses seleksi pada tahap ini sangat ditentukan oleh berkas lamaran kerja, yaitu Curriculum Vitae [CV] dan surat lamaran kerja. Dengan demikian, CV dan surat lamaran kerja itu menjadi tiket masuk ke tahap seleksi berikutnya, yaitu tes tertulis dan wawancara kerja.
Dari pengalaman membolak-balik tumpukan berkas lamaran kerja, saya temukan bahwa banyak pelamar kerja kurang bisa mempromosikan dirinya. Banyak CV dipenuhi informasi yang tidak relevan, atau bahkan informasi yang sebenarnya kurang menguntungkan bagi pelamar kerja sendiri. Kerap CV hanya mencantumkan tahun kerja, tempat kerja dan jabatan – tanpa penjelasan tentang tugas-tugas dan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai pelamar. CV-CV itu kurang menarik dilihat karena tampilannya penuh hiasan grafis yang berwarna-warni dan font-font dengan ukuran yang beragam. Hal-hal seperti itu menghilangkan kesempatan untuk lolos seleksi awal.
Proses seleksi dokumen memang berat: Anda hanya punya waktu sekitar 30 detik untuk menciptakan kesan pertama yang positif agar lolos seleksi awal. Staf penyeleksi atau HRD adalah orang-orang sibuk jadi mereka harus menyeleksi dokumen lamaran kerja dengan cepat karena mereka harus mengerjakan tugas-tugas lainnya. Padahal lamaran yang masuk jumlahnya ratusan. Karena itu mereka hanya punya waktu sekitar 30 detik untuk melihat sekilas masing-masing dokumen lamaran kerja. Dokumen yang lolos seleksi 30 detik ini, selanjutnya akan diseleksi dengan lebih ketat lagi. Jika dokumen Anda tidak lolos 2 tahap ini, maka berkas lamaran kerja Anda hanya sampai di sini dan akan ditumpuk bersama sekitar 99% dokumen lain yang tidak lolos seleksi.
Kenyataan seperti itulah yang mendorong saya menyusun buku ini. Menulis CV sebenarnya tidak sulit, tapi jika ingin CV Anda berhasil, Anda perlu strategi dalam mengemas infomasi, baik yang positif maupun yang negatif tentang diri Anda. Buku ini mencoba menyajikan strategi tersebut dalam format kiat-kiat praktis. Format seperti ini sengaja dipilih karena CV yang bagus, yang menarik, dan yang berhasil membawa pelamar kerja ke tahap wawancara adalah CV yang "taylor-made". Artinya CV itu harus disesuaikan dengan latar belakang pelamar kerja dan pemberi kerja. Jadi tidak ada satu model CV yang bisa dipakai oleh semua orang dan ditujukan untuk semua perusahaan/organisasi. Sebab setiap orang itu unik. Demikian pula perusahaan/organisasi.
Yang paling penting sebelum menyusun CV adalah benar-benar melihat ke dalam diri Anda sendiri. Apa kelebihan Anda? Apa kekurangan Anda? Coba diingat-ingat kembali, apa yang sudah Anda lakukan? Apa keberhasilan Anda? Apa yang membuat Anda berhasil? Setelah itu, coba proyeksikan ke depan. Tujuan Anda hendak ke mana? Apa yang ingin Anda raih? Komponen-komponen inilah yang membuat masing-masing orang menjadi unik. Inilah yang membuat CV jadi menarik. Hal-hal semacam itulah yang menjadi fokus dalam buku ini. Secara umum, buku ini masih jauh dari sempurna, namun saya berharap, sedikit yang bisa saya berikan dalam buku ini bisa membantu Anda dalam menyusun CV yang efektif untuk membawa Anda lolos seleksi kerja dan meraih karir yang Anda cita-citakan.
Buku ini tidak mungkin terbit tanpa rahmat dan karunia dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Untuk itu, saya menghaturkan rasa syukur dan terimakasih yang terdalam. Besar pula terimakasih saya pada keluarga: ibu, bapak, Elan, Diki, Intan – atas cinta yang tak terbatas. Ucapan terimakasih yang tulus ingin saya sampaikan kepada Can, karib seperjalanan utuk menjemput impian, dan kepada Yitno, Kholil serta Cak Sur yang membantu membukakan pintu-pintu kemungkinan. Saya berterimakasih pada Djujur dan kawan-kawan di D&W Media serta Technomedia yang menaruh perhatian atas buku ini dan memberi kesempatan untuk dipublikasikan dalam format mobile via handphone, dan memperbolehkan saya menerbitkannya melalui internet. Kesempatan ini akan digunakan untuk menciptakan peluang usaha melalui blog sekaligus upaya peningkatkan keterampilan dalam bidang teknologi informasi bagi masyarakat kota dan desa yang terpinggirkan secara ekonomi.
CV Anda adalah brosur yang berisi profil diri Anda, bukan otobiografi Anda. Pernahkah Anda membaca brosur suatu produk yang mencantumkan kelebihan sekaligus kekurangan produk tersebut? Nah sama halnya dengan brosur produk, CV Anda harus menunjukkan bahwa Anda punya kelebihan dan oleh karena itu Anda patut diperhatikan. Tidak lebih, tidak kurang.
Ingat, Anda tidak perlu menceritakan setiap hal dalam CV. Inilah kesalahan yang umum terjadi dan menjadi alasan ditolaknya banyak CV. Agar CV Anda efektif, hindarilah kesalahan tersebut dan ikuti kiat-kiat berikut ini:
1. Hilangkan informasi negatif 2. Jujurlah 3. Memilah informasi yang relevan 4. Berikan informasi yang relevan 5. Menjawab kebutuhan perusahaan/organisasi 6. Negosiasikan gaji pada tahap akhir 7. Menyiapkan beberapa versi CV
1. Hilangkan Informasi Negatif CV sering digunakan sebagai panduan wawancara. Fungsi ini kurang dipertimbangkan oleh pelamar. Apabila CV menunjukkan kegagalan studi Anda, maka itulah yang akan dibicarakan saat wawancara. Karena itu, sebaiknya Anda hanya mencantumkan informasi positif, bukan negatif.
Andalah yang memegang kendali atas CV Anda. Jadi Anda bebas menghilangkan beberapa informasi. Informasi mana yang akan Anda hilangkan? Yang pasti, hilangkan informasi negatif. Informasi negatif hanya cocok disebutkan saat wawancara, ketika Anda punya kesempatan untuk memberikan penjelasan.
Misalnya, Anda dipecat lima tahun yang lalu karena Anda tidak setuju dengan atasan Anda, tetapi Anda memiliki karir yang sukses setelah itu, maka Anda tidak harus mencantumkan riwayat pemutusan kerja Anda tersebut dalam CV Anda.
2. Jujurlah Pewawancara sering terpancing untuk menanyakan isi CV Anda. Namun tidak semua pewawancara mahir dalam bidang ini. Maka, sudah pasti kerangka wawancara akan difokuskan pada CV. Anda tentu harus mencantumkan informasi yang sebenarnya dan dapat dibuktikan dalam CV Anda. Jika tidak, kredibilitas Anda akan hilang dan kesempatan mendapatkan tawaran kerja akan mengecil.
Anda boleh saja meniadakan sejumlah informasi. Maksudnya, Anda boleh tidak menuliskan informasi negatif, tapi Anda harus tetap menyiapkan jawaban, sekiranya pewawancara mencoba mencari tahu.
Pastinya, Anda tidak ingin memiliki atasan yang berbohong tentang gaji dan prospek karir Anda. Karena itu, jangan berbohong mengenai riwayat pendidikan maupun karir yang sebenarnya tidak Anda miliki. Hal seperti ini dapat dengan mudah dibuktikan keabsahannya, dan bila kebohongan Anda diketahui, tindakan Anda ini dapat dijadikan alasan untuk menolak Anda.
Jadi, selalu bertindak jujur sejujur-jujurnya. Akan tetapi, jangan terlalu jujur, karena Anda tidak perlu menyertakan informasi yang negatif. Untuk apa merusak prospek kerja Anda?
Ada sebuah perkataan: “Kejelekan Anda hanya untuk diketahui oleh Anda sendiri dan dicari tahu orang lain.” Menurut Anda apakah hal ini adil? Mungkin juga, toh belum pernah ada iklan lowongan pekerjaan berbunyi, “Kami memecat separuh jumlah karyawan kami untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan.” Dalam konteks ini yang berlaku adalah “Kejelekan hanya untuk diketahui perusahaan/organisasi dan dicari tahu oleh pelamar kerja”
3. Memilah Informasi yang Relevan Sebagaimana telah disebutkan di atas sebagian besar CV terkesan seperti otobiografi, yakni hanya menonjolkan diri. Segala macam informasi tentang diri sendiri dimasukkan dalam CV. Misalnya riwayat pendidikan lengkap dari TK sampai Perguruan Tinggi, semua seminar atau training yang pernah diikuti, semua pengalaman berorganisasi, hobi yang bermacam-macam, dan lain sebagainya. Memang calon atasan Anda perlu tahu tentang diri Anda, namun sebaiknya informasi itu dipilah-pilah, disesuaikan mana yang relevan dengan kebutuhan perusahaan/organisasi yang ingin Anda lamar. Tidak semua hal tentang diri Anda harus dimasukkan dalam CV.
Sebenarnya tidak ada aturan mutlak tentang cara penulisan CV. Ada cara yang terbukti berhasil buat si A namun cara yang sama tidak berhasil bagi si B. Namun pada intinya, CV harus memenuhi 3 kebutuhan utama, yaitu:
• Menonjolkan kelebihan Anda di hadapan calon atasan • Menjadi panduan untuk wawancara • Mendukung pernyataan yang akan diutarakan dalam wawancara
Menyusun CV sebenarnya tidak sulit, tapi jika ingin CV Anda berhasil, Anda perlu waktu, tenaga, pikiran, kreativitas, dan kebulatan tekad. CV Anda harus mempertimbangkan calon atasan. Pengarang menulis buku atau artikel sambil mempertimbangkan pembaca, pembuat iklan mempertimbangkan konsumen, begitu pula seharusnya Anda. Anda menjual kemampuan dan pengalaman Anda di pasar kerja, sehingga harus dipastikan bahwa profil diri Anda menampilkan aspek terbaik Anda di hadapan calon atasan. Oleh karena itu, saat menyusun CV Anda, lihatlah dari sudut pandang ini: kontribusi apa yang bisa Anda berikan bagi perusahaan/organisasi? Atau pengalaman apa yang Anda miliki yang bisa membantu memenuhi kebutuhan perusahaan/organisasi?
4. Berikan Informasi yang Relevan Anda tidak perlu mencantumkan informasi yang tidak relevan dengan target karir Anda. Misalnya saat kuliah, pekerjaan pertama Anda adalah Waiter [pramusaji] di restoran, kemudian Anda bekerja sebagai Telephone Operator di hotel, dan sekarang Anda bekerja sebagai Freelance Copywriter untuk beberapa perusahaan periklanan. Sebenarnya riwayat kerja ini menarik, tetapi tidak ada gunanya jika dicantumkan secara mendetail pada CV.
Dalam konteks itu, CV Anda sebaiknya hanya mencantumkan informasi yang relevan, seperti ini:
Sebelum tahun 200X, pernah menduduki posisi customer service dalam bidang pelayanan makanan [food service] dan telekomunikasi.
Bila pekerjaan Anda yang terdahulu berkaitan langsung dengan pekerjaan yang baru, maka cantumkanlah. Misalnya, seorang pemasok daging yang dulu bekerja sebagai tukang daging. Anda harus menentukan cara yang menurut Anda terbaik untuk menampilkan karir-karir awal Anda pada CV. Pertanyaan yang harus Anda ingat: apakah karir ini cocok dengan dan/atau mendukung keinginan karir saya sekarang? Jika tidak terlalu berguna, karir tersebut tidak perlu Anda cantumkan.
Kadangkala ada pelamar yang mencantumkan nama lengkap, tanggal lahir, dan tempat lahir anak-anak mereka pada CV mereka. Ketika ditanya untuk apa mereka mencantumkan hal semacam tadi, mereka mengatakan, “Informasi ini tentunya diperlukan oleh calon atasan.” Calon atasan memang memerlukan informasi tersebut, tapi bukan melalui CV. Informasi seperti ini bisa diberikan saat Anda sudah diterima kerja di perusahan/organisasi tersebut, misalnya untuk pengurusan asuransi dan sebagainya. Ingat bahwa Anda hanya perlu memberikan informasi secukupnya agar lulus ke tahap wawancara.
5. Menjawab Kebutuhan Perusahaan/Organisasi Perusahaan/organisasi, seperti halnya manusia, memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Dua perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha yang samapun biasanya tetap memiliki perbedaan. Misalnya kedua perusahaan tersebut sama-sama produsen sabun, tapi bisa jadi salah satu perusahaan tersebut memproduksi sabun kecantikan, sementara satunya lagi sabun kesehatan. Bisa jadi kedua perusahaan itu sama-sama menjual sabun kesehatan, namun target pasar mereka berbeda, yakni yang satu targetnya adalah kelas menengah ke bawah, dan satunya lagi adalah kelas menengah ke atas. Dari sisi bahan bakunya, bisa jadi salah satu perusahaan tersebut menerapkan prinsip pemakaian bahan-bahan yang aman bagi lingkungan, sementara perusahaan yang satunya tidak mempedulikan hal tersebut.
Intinya, Anda perlu mengetahui Informasi tentang karakter dan kebutuhan perusahaan/organisasi yang akan Anda lamar. Informasi ini bisa Anda dapatkan dari iklan lowongan kerja yang mereka publikasikan. Selain itu Anda bisa mencari informasi melalui website, kenalan yang bekerja di sana, atau dengan datang ke kantor itu untuk mendapat brosur, laporan tahunan atau bertanya langsung ke staf di sana, misalnya pada resepsionis. Setelah mendapatkan informasi itu, yang perlu Anda lakukan selanjutnya adalah memilah informasi tentang diri Anda yang relevan bagi perusahaan/organisasi tersebut.
Misalnya perusahaan yang Anda lamar memproduksi sabun kesehatan untuk kelas menengah ke bawah, maka jika Anda punya pengalaman menjual produk dengan target pasar yang sama, informasi ini perlu ditonjolkan dalam CV. Jika daerah operasi perusahaan itu sama dengan tempat pendidikan Anda atau tempat kerja Anda yang terdahulu, maka informasi itu sebaiknya dicantumkan dalam CV Anda. Jika Anda mencantumkan informasi seperti ini, maka akan terlihat bahwa Anda cukup mengenal daerah itu, bahkan mungkin Anda tahu tentang supplier atau distributor barang atau jasa yang relevan dan mungkin bisa menjadi mitra dengan perusahaan yang Anda lamar.
6. Negosiasikan Gaji pada Tahap Akhir Prinsip umum mengenai gaji adalah atasan menggaji Anda sesedikit mungkin. Karena itu, Anda harus mempelajari ilmu bernegosiasi jika Anda ingin mendapat gaji sebesar mungkin. Aturan pertama adalah usahakan untuk menegosiasi gaji dengan pembuat keputusan. Aturan keduanya adalah selalu bernegosiasi saat Anda memiliki kendali atau posisi tawar [bargaining power].
Bila Anda adalah satu dari 200 atau lebih kandidat yang diberi kesempatan mengikuti wawancara kerja, maka Anda belum mempunyai kendali. Karena itu, belum saatnya Anda menyebutkan berapa gaji yang Anda minta. Bahkan saat Anda telah masuk dalam daftar wawancara yang mungkin hanya terdiri dari lima orang pun, Anda tetap belum punya kendali untuk menegosiasikan gaji.
Misalkan Anda adalah kandidat terakhir yang bertahan dalam berbagai tahapan seleksi, apakah Anda memiliki kendali? Tentu. Jika calon atasan menolak Anda, mereka sadar bahwa mereka harus mengulang proses rekrutmen, yang berarti kendali kini ada di tangan Anda.
Lain halnya bila Anda mengirimkan CV ke agen pencari tenaga kerja atau head hunter. Agensi semacam ini dibayar berdasarkan komisi. Mereka bersemangat mendapatkan pencari kerja sebanyak mungkin. Dalam hal gaji, mereka dapat membantu Anda. Maka, terangkanlah kepada mereka detil dan paket gaji yang Anda harapkan. Mereka akan memberitahu berapa kira-kira gaji yang pantas Anda dapatkan. Menerangkan kepada agen berapa gaji yang Anda dapat dan inginkan (atau bersedia terima) tidak menghalangi Anda untuk bernegosiasi dengan calon atasan.
7. Menyiapkan Beberapa Versi CV Kesalahan yang sering dilakukan banyak orang adalah menyiapkan satu CV kemudian mengirimkannya ke berbagai perusahaan/organisasi. Padahal, sebagaimana telah dijelaskan di atas, masing-masing perusahaan/organisasi memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, sebaiknya CV Anda disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan/organisasi.
Idealnya, ada satu CV yang khusus ditulis dan disesuaikan untuk setiap perusahaan/organisasi yang Anda tuju. Namun, karena ketatnya kompetisi dan langkanya lapangan kerja saat ini, mau tidak mau Anda harus mengirim puluhan bahkan ratusan CV ke berbagai tempat sehingga akan banyak memakan waktu jika harus membuat puluhan bahkan ratusan CV yang unik. Untuk menyiasatinya, sebaiknya Anda menyiapkan tiga CV dasar, yaitu:
• CV yang berisi pekerjaan Anda sekarang • CV yang ditargetkan untuk pekerjaan berikutnya dalam karir Anda • Kombinasi CV tipe pertama dan kedua.
Dengan tiga CV di atas, Anda sudah punya modal untuk mengirim sebagian besar lamaran kerja Anda. Tapi ingat, Anda tetap harus memodifikasi CV Anda. Misalnya, mengubah urutan prestasi kerja Anda berdasarkan kualifikasi yang diminta perusahaan. Mungkin juga, Anda perlu menyederhanakan atau menghilangkan daftar tugas yang tidak berhubungan dengan posisi yang Anda lamar.
Sebelum menulis CV yang efektif, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui, yang akan menjadi dasar penulisan CV Anda, yaitu:
1. Jenis format CV yang cocok untuk Anda 2. Kelebihan dan kekurangan CV Kronologis 3. Kelebihan dan kekurangan CV Fungsional 4. Kerangka CV yang efektif
1. Menentukan Format CV yang Cocok untuk Anda Anda perlu tahu format CV mana yang paling cocok untuk Anda karena hal ini akan menjadi dasar penulisan CV Anda. Pada intinya ada 2 format CV, yakni CV Kronologis dan CV Fungsional. Ada pula penulisan CV yang menggunakan kombinasi dari CV Kronologis dan CV Fungsional. Format CV lainnya adalah CV Alternatif yang biasanya digunakan oleh mereka yang bergelut di bidang seni. Format CV Alternatif umumnya menggunakan ilustrasi atau foto dengan tata letak yang tidak standar untuk menunjukkan kreativitas pelamar.
Masing-masing format memiliki kelebihan dan kekurangan. Pilihan format CV yang akan digunakan sangat tergantung pada pengalaman kerja, prestasi, pekerjaan yang diinginkan, dan beberapa faktor yang kira-kira akan menjadi pertimbangan perusahaan/organisasi. Berikut ini adalah penjelasan tentang format CV yang paling sering dipakai yakni CV Kronologis dan CV Fungsional.
2. Kelebihan dan Kekurangan CV Kronologis CV Kronologis menekankan pada urutan masa bekerja. Penulisan riwayat kerja menggunakan susunan kronologi terbalik, yakni diawali dengan pekerjaan yang paling terakhir dijalani, kemudian mundur ke pengalaman kerja sebelumnya. Judul posisi/jabatan, nama perusahaan/organisasi dan tahun bekerja dicantumkan sebagai sub-judul. Kemudian di bawahnya, diberi keterangan mengenai tugas-tugas yang dijalankan di perusahaan/organisasi tersebut.
Pengembangan dari CV Kronologis adalah CV Performa, yakni yang dalam susunannya mencantumkan prestasi-prestasi atau keberhasilan yang pernah dicapai. CV Kronologis dan Performa sebaiknya digunakan oleh mereka yang ingin menekuni sektor pekerjaan yang sama, dan memiliki riwayat kerja yang konstan atau tidak banyak jeda/waktu kosong antar masa kerja.
Kedua format CV ini banyak digunakan karena format ini memuat informasi yang dikehendaki pihak pemberi kerja, antara lain tentang masa kerja. Selain itu, format CV ini lebih banyak dikenal orang karena pembuatannya yang mudah dan tidak terlalu membutuhkan strategi dan kreativitas sebagaimana format CV lainnya.
Karena di dalam CV Kronologis dan Performa dicantumkan tahun bekerja, hal ini bisa menonjolkan pengalaman bekerja di sebuah sektor pekerjaan. Hasilnya dapat menciptakan citra positif jika menunjukkan adanya peningkatan dari satu posisi ke posisi lainnya. Sebaliknya, CV Kronologis dan Performa bisa merugikan, terutama bagi mereka yang memiliki banyak jeda antar masa kerja yang mungkin disebabkan karena mengganggur, PHK, wirausaha, sakit, melahirkan, membesarkan anak, dan lain-lain. Sebab dalam beberapa detik saja staf penyeleksi/HRD langsung bisa melihat masa kerja yang pendek dalam CV. Hal ini kerap membuat orang tidak lolos seleksi dan tidak mendapat panggilan wawancara kerja.
Format CV kronologis dan performa juga kurang menguntungkan bagi mereka yang tidak memiliki banyak prestasi atau prestasi yang diraih tidak berhubungan dengan sektor pekerjaan yang ingin dilakukan, serta bagi mereka yang mempunyai judul posisi atau jabatan yang sama terus-menerus meski sudah pindah ke berbagai perusahaan/lembaga. Hal ini memberi kesan tidak adanya peningkatan kapasitas atau pengalaman kerjanya yang sangat sempit dan terbatas.
3. Kelebihan dan Kekurangan CV Fungsional CV Fungsional menekankan pada fungsi, kemampuan atau prestasi yang dimiliki seseorang sepanjang masa karirnya. Penulisan riwayat kerja yang mencantumkan posisi atau jabatan, nama perusahaan/organisasi dan masa kerja tidak diutamakan, bahkan seringkali dihilangkan. Sebagai gantinya, penulisannya menggunakan fungsi atau prestasi yang dimiliki, kemudian di bawahnya diberi keterangan mengenai kemampuannya. Contohnya, untuk seorang yang bekerja sebagai Receptionist, bisa menggunakan sub-judul Front Office Management karena pada kenyataanya seorang Receptionist memang memiliki fungsi-fungsi yang berurusan dengan Front-Office.
Penggantian posisi/jabatan dengan fungsi atau prestasi bisa menonjolkan keahlian sesorang dan membuat judul posisi yang kurang menguntungkan jadi tidak terlalu diperhatikan. Coba bandingkan kesan yang didapat dari penggunaan kata Receptionist dengan Front Office Management. Karena itu format CV ini cocok bagi mereka yang memiliki judul posisi/jabatan yang kurang mengesankan meski memiliki keahlian. CV Fungsional juga memungkinkan seseorang untuk menonjolkan kemampuan kerja di masa lalu tanpa menyoroti masa kerja. Dengan demikian format CV ini cocok bagi mereka yang memiliki keahlian namun tidak didukung oleh masa kerja yang panjang di sebuah perusahaan/organisasi karena sering berpindah tempat kerja, atau banyak jeda antar masa kerja yang mungkin disebabkan karena menganggur, terkena PHK, wirausaha, sakit, melahirkan, membesarkan anak dan lain-lain. Selain itu, CV Fungsional juga cocok bagi mereka yang ingin mengubah arah karir, serta bagi mereka yang memiliki pengalaman kerja yang bersifat sukarela atau tanpa bayaran.
Kekurangan dari format CV ini yaitu bila perusahaan/organisasi terdahulu memiliki reputasi baik, maka hal itu tidak lekas terlihat di dalam CV. Untuk mengatasinya, hal itu dapat disebutkan di dalam surat lamaran kerja. Format CV ini juga kurang cocok bagi mereka yang memiliki keahlian atau prestasi kerja yang terbatas. Sebenarnya kekurangan yang ada pada CV Fungsional ini tidak terlalu berarti. Pada kenyataannya format CV ini cocok untuk digunakan sebagian besar pelamar kerja.
4. Kerangka CV yang Efektif Kerangka CV yang baik bisa membantu memperlihatkan diri dan bakat Anda. Sebagian orang biasanya memakai kerangka tradisional yang sebenarnya kurang menarik, seperti ini:
Struktur seperti ini lebih banyak mendatangkan panggilan wawancara, karena menyampaikan informasi kepada calon atasan berdasarkan urutan kebutuhan untuk menentukan perlu tidaknya diadakan wawancara.
Atasan akan lebih tertarik dengan keahlian dan pengalaman Anda dibandingkan berapa usia atau minat Anda. Bila Anda memiliki kualifikasi yang diakui dan relevan dengan pekerjaan, sebaiknya keterangan seperti ini dicantumkan setelah nama Anda, agar calon atasan langsung dapat melihat pengalaman profesional Anda atau pendidikan yang telah Anda tempuh, misalnya. Bagian pendidikan bisa ditulis setelah karir, karena pengalaman kerja Anda lebih relevan untuk calon atasan Anda.
Stuktur kerangka ini masih bisa dimodifikasi dengan menambahkan subjudul lain, seperti “Pengalaman Berorganisasi”, atau “Keikutsertaan dalam Seminar/Training” dan lain sebagainya. Intinya, buatlah kerangka CV untuk menampilkan informasi tentang diri Anda yang relevan dengan kebutuhan perusahaan/organisasi yang Anda tuju.
CV yang baik disusun dengan menggunakan bahasa yang efektif, khususnya dalam segi pemilihan kata dan penyusunan kalimat. Bahasa yang efektif mampu menonjolkan kekuatan-kekuatan Anda sehingga terbangun citra positif. Untuk menciptakan bahasa yang efektif, ada kalanya aturan tatabahasa yang baku tidak berlaku, contohnya penggunaan jenis kata ganti orang pertama tunggal, seperti “saya “, pemakaian kata sandang seperti “sebuah” dan hal-hal lainnya yang akan dijelaskan pada bab ini beserta kiat-kiat sebagai berikut:
1. Gunakan kata kunci 2. Gunakan ejaan yang benar 3. Gunakan kalimat dan kata yang singkat 4. Gunakan kata yang berkesan positif 5. Gunakan kata kerja 6. Jangan menggunakan “saya” 7. Bedakan tatabahasa Indonesia dan Inggris 8. Gunakan Bentuk Waktu Lampau
1. Gunakan Kata Kunci Iklan lowongan kerja memberi banyak informasi tentang pekerjaan yang ditawarkan. Hal utama yang harus Anda perhatikan adalah kualifikasi yang dibutuhkan atau kriteria yang ditentukan perusahaan/organisasi. Biasanya, kualifikasi berisi tentang latar belakang pendidikan, umur, pengalaman kerja, serta keterampilan lain, seperti: bisa bekerja di bawah tekanan, fasih berbahasa Inggris dan sebagainya.
Kualifikasi atau kriteria tersebut menjadi kata kunci dalam CV Anda. Upayakan agar kata kunci itu tercantum sebanyak-banyaknya pada bagian-bagian CV Anda. Tentunya ini harus sesuai dengan latar belakang Anda, dan tidak bisa asal dikarang-karang. Kata kunci tersebut sebaiknya juga dicantumkan dalam surat lamaran kerja Anda.
Selain kata-kata yang tercantum dalam iklan, kata kunci juga bisa berupa istilah yang dipakai dalam bidang pekerjaan itu, misalnya arus kas atau cashflow untuk bidang keuangan, mock-up untuk bidang desain grafis dan lain-lain. Untuk kata kunci berupa akronim atau singkatan, bila sekiranya pembaca CV Anda tidak akan memahami singkatan yang tidak populer, jangan gunakan singkatan tersebut. Akan tetapi, bila Anda melamar pekerjaan dalam bidang teknologi dan informasi, jangan ikuti saran ini. Justru, gunakan singkatan sebanyak mungkin, karena ini akan membuat divisi SDM kagum dan calon atasan operasional Anda tertarik untuk mengenal Anda lebih jauh.
2. Ejaan yang Benar Semua kata pada CV harus dieja dengan benar. Dengan satu kesalahan ejaan saja, staf perekrut bisa menyingkirkan dokumen Anda ke tumpukan “DITOLAK”.
Jika ada kesalahan ejaan atau ketikan dalam CV Anda, kesan yang mungkin timbul di benak calon atasan Anda adalah sebagai berikut:
• Anda tidak dapat mengeja • Anda pemalas • Anda tidak memperhatikan detil • Anda tidak layak mewakili citra perusahaan • Anda tidak benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut
3. Gunakan Kalimat dan Kata yang Singkat Pada tahap awal seleksi dokumen, CV Anda akan dibaca secara sepintas lalu, bukan diperiksa dengan teliti, sehingga usahakanlah agar CV Anda mudah dimengerti. Caranya dengan menggunakan kalimat-kalimat singkat seperti di koran. Gaya ini membuat CV Anda lebih menonjol dan terlihat dinamis. Namun hal ini tidak berlaku jika Anda mengincar pekerjaan yang membutuhkan gaya bahasa tertentu.
Kata-kata singkat juga memiliki efek yang sama. Kata yang terdiri lebih dari tiga suku kata lebih sulit dimengerti jika dibaca sekilas. Orang-orang yang berkutat dengan ratusan CV sudah memiliki pekerjaan yang cukup sulit. Jadi, ringankanlah beban mereka. Gunakan kata-kata yang singkat dan sederhana.
4. Gunakan Kata yang Berkesan Positif Jika diperhatikan, Anda bisa menemukan bahwa ada kata-kata yang memiliki kesan lebih positif dibandingkan kata lain dengan arti yang sama. Contohnya: menegosiasikan memberi kesan lebih kuat daripada membicarakan, merundingkan, atau menawar. Contoh lainnya: mengelola lebih positif daripada menata, mengatur atau mengurus.
Setelah Anda selesai menulis CV, perhatikanlah setiap kata dengan teliiti. Mungkin saja ada kata-kata dalam CV Anda yang bisa diganti dengan kata-kata yang lebih kuat atau positif. Untuk mengerjakan ini, Anda bisa menggunakan bantuan kamus atau tesaurus Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
5. Gunakan Kata Kerja Apabila memungkinkan, gunakanlah kata kerja dibandingkan kata benda untuk menjelaskan tugas-tugas dan prestasi-prestasi Anda. Kata benda tidak menciptakan kesan yang kuat, contohnya:
• Mengelola dibandingkan pengelolaan • Memperbaiki dibandingkan perbaikan • Meneliti dibandingkan penelitian
Kata kerja memberi kesan bahwa Anda telah menghasilkan prestasi. Citra seperti itulah yang seharusnya ditampilkan dalam CV Anda.
6. Jangan Menggunakan “Saya” Hindari penggunaan kata ganti orang pertama tunggal, seperti “saya”. Gunakan “saya” hanya pada saat wawancara. Terlalu banyak menggunakan kata “saya” memberi kesan seolah-olah Anda memuja diri sendiri. Tidak mencantumkan “saya” akan mempermudah Anda dalam memperlihatkan keahlian Anda tanpa terkesan menyombongkan diri. Dengan menggunakan kata kerja, Anda tidak perlu menuliskan “saya” di depan kata-kata kerja tersebut. Kini Anda dapat menuliskan prestasi Anda dengan menggunakan “tab” pada komputer Anda, agar sedikit masuk dari ujung paragraf, supaya prestasi Anda lebih menonjol dan menarik perhatian pembaca CV.
7. Perhatikan Tatabahasa Inggris dan Indonesia Hal yang perlu diingat adalah Bahasa Indonesia menggunakan aturan tatabahasa yang berbeda dengan Bahasa Inggris. Contohnya dalam hal pemakaian artikula atau kata sandang, seperti “sebuah”, seorang”, “si”, “sang”.
Kalimat dalam Bahasa Indonesia pada dasarnya bisa memakai kata sandang dan bisa juga tidak memakai kata sandang tersebut. Contohnya:
• Mensupervisi sebuah divisi pemasaran [memakai kata sandang “sebuah”] • Mensupervisi divisi pemasaran [tidak memakai kata sandang]
Sementara itu, kalimat dalam tatabahasa Inggris lazimnya menggunakan kata sandang, contohnya:
• Supervised a marketing division [memakai kata sandang “a”]
Aturan tentang kata sandang ini tidak diterapkan dalam penulisan CV berbahasa Inggris juga Bahasa Indonesia. Penggunaan kata sandang tunggal, seperti “a”, “an”, “the” dalam Bahasa Inggris atau “sebuah”, “seorang”, “si”, “sang” dalam Bahasa Indonesia sebaiknya ditanggalkan karena memberi kesan Anda mempunyai pengalaman sedikit dan sempit. “Supervised marketing division” memberi kesan lebih luas dan kuat dibandingkan “Supervised a marketing division”.
8. Gunakan Bentuk Waktu Lampau Hal lain yang perlu diingat berkaitan dengan tatabahasa adalah dalam hal bentuk waktu atau tenses. Sebisa mungkin gunakanlah kata kerja dalam bentuk waktu lampau [past tense] dalam menjelaskan tugas dan prestasi Anda. Pemakaian bentuk waktu lampau ini untuk mempertegas bahwa Anda telah memberi kontribusi kepada perusahaan/organisasi. Untuk CV berbahasa Indonesia, hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan kata “pernah” atau “telah”, sementara itu, CV dalam Bahasa Inggris bisa melihat rumus kata kerja dalam past tense, contohnya:
• achieved = mencapai • acquired = memperoleh • analysed = menganalisis • anticipated = mengantisipasi • approved = menyetujui
Dari tumpukan CV yang ada di meja perekrut, pasti ada sebagian CV yang cocok dengan kualifikasi yang diinginkan perusahaan/organisasi. Beberapa orang yang lolos kualifikasi ini memiliki pendidikan dan pengalaman yang relatif sama. Jadi, bagaimana Anda dapat terlihat berbeda secara positif? Ada beberapa hal yang bisa Anda lalukan, sebagai berikut:
1. Tulislah prestasi kerja Anda 2. Membuat urutan prestasi 3. Jelaskan Prestasi dengan Angka 4. Kaitkan Prestasi dengan Kontribusi 5. Cantumkan prestasi diluar pekerjaan 6. Menjelaskan minat / hobi 7. Mengurutkan minat / hobi 8. Jangan bercanda
1. Tulislah Prestasi Kerja Anda Banyak orang tidak menjelaskan prestasi kerjanya di dalam CV mereka. Kebanyakan hanya menjiplak deskripsi pekerjaan (job description) yang berisi tugas dan tanggung jawab yang telah dibuat oleh perusahaan / lembaga. Ini memang lebih baik daripada tidak ada usaha sama sekali, tetapi semua orang bisa diberikan tugas dan tanggung jawab. Sementara tugas dan tanggung jawab tidak memperlihatkan apa saja kontribusi yang diberikan orang tersebut.
Anda harus ingat bahwa divisi SDM menyusun job description yang berisi tugas dan tanggung jawab untuk menentukan gaji, mempekerjakan, mengevaluasi dan memecat karyawan – bukan untuk membantu seseorang mendapatkan pekerjaan. Jadi untuk apa mencantumkan informasi yang dibuat orang lain pada CV Anda? Alasan lainnya karena isi job description tersebut sangat melekat pada pekerjaan Anda yang terdahulu, sehingga menghalangi Anda mendapatkan pekerjaan baru.
Bila Anda mencantumkan informasi mengenai pekerjaan Anda, jangan tuliskan tugas dan tanggung jawab apa yang diberikan kepada Anda, tapi tugas apa yang sebenarnya Anda lakukan. Contohnya: seorang petugas toko bisa saja hanya memiliki tugas dan tanggung jawab yang berhubungan dengan persediaan barang. Akan tetapi, dalam kenyataannya ia mempercepat distribusi barang sebanyak 17% dan meningkatkan penjualan barang sebanyak 50%. Hal ini merupakan prestasi yang selayaknya ditulis dalam CV. Pada dasarnya, dengan mencantumkan prestasi kerja, Anda mengatakan, “Saya pernah memberikan kontribusi ini pada perusahaan/organisasi terdahulu. Saya bisa melakukan yang sama bagi perusahaan/organisasi Anda.”
2. Membuat Urutan Prestasi Dengan melihat semua prestasi yang pernah Anda raih, manakah yang kira-kira akan mendapat nilai tertinggi dan terendah oleh perekrut? Misalnya, sebagai seorang Eksekutif Periklanan, prestasi yang paling membanggakan Anda adalah kreativitas Anda dalam membuat naskah. Tentunya, prestasi pertama yang ingin Anda cantumkan adalah:
• Menciptakan konsep dan menulis naskah untuk...
Namun, pekerjaan yang Anda lamar mengutamakan manajemen klien. Inilah yang sebenarnya dicari oleh perekrut. Maka dari itu, prestasi yang sebaiknya Anda cantumkan pertama atau sebelum menuliskan informasi mengenai kreativitas Anda, adalah:
• Berhasil membuat perencanaan promosi untuk perusahaan sekuritas
Ketika Anda mengurutkan prestasi Anda, selalu pertimbangkan perekrut yang membaca CV Anda, bukan diri Anda sendiri.
3. Jelaskan Prestasi dengan Angka-angka Pertama-tama, buat daftar segala tugas dan tanggung jawab Anda untuk posisi pekerjaan Anda. Tulislah semua prestasi yang pernah Anda raih dan membuat Anda merasa “Tugas ini berhasil saya jalankan” atau “Gaji ini pantas saya dapatkan karena keberhasilan saya”. Kesemua itu adalah “keahlian” pekerjaan Anda.
Periksalah keahlian Anda yang utama dengan cermat. Apa saja keahlian tersebut, seberapa penting, siapa saja yang ikut ambil bagian di dalamnya, apa kontribusinya bagi perusahaan? Pikirkan pula “Apakah keahlian tadi dapat diperjelas bila dilengkapi dengan data kuantitatif – dengan angka, persentase, atau ukuran hitungan lainnya?” Mengapa Anda perlu menyertakan data kuantitatif? Sebuah prestasi yang dilengkapi dengan data kuantitatif akan terlihat lebih mengesankan, lebih dapat dipercaya, dan lebih dapat dimengerti. Misalnya:
• Memimpin tim peneliti pemberdayaan ekonomi pedesaan.
Berapa banyak ahli yang ikut dalam penelitian, apa pendidikan mereka, penelitian semacam apa, bagaimana cara Anda memimpin mereka? Setelah Anda mencermati pertanyaan-pertanyaan tadi, Anda dapat menggantinya menjadi:
• Memimpin tim multi disipliner yang terdiri dari empat peneliti ekonomi dan empat peneliti sosiologi pedesaan dan menggunakan hasil penelitian untuk menyusun kebijakan pemberdayaan ekonomi pedesaan.
Penanggung jawab divisi SDM/HRD mungkin tidak tahu banyak mengenai teknis pemberdayaan ekonomi pedesaan, tapi mereka tahu apa arti multi disipliner, memimpin, dan angka empat itu. Jadi, prestasi di atas tak hanya terdengar lebih mengesankan, tapi juga membuat para “penjaga pintu” berkata “silahkan masuk”. Penjaga pintu adalah orang-orang divisi SDM/HRD yang menjaga pintu menuju perusahaan yang dilewati oleh para pelamar kerja. Mereka tidak berhak menentukan diterima atau tidaknya seorang kandidat, tapi mereka dapat menentukan kandidat mana yang boleh melewati pintu masuk menuju wawancara kerja.
4. Kaitkan Prestasi dengan Kontribusi Setelah menulis keahlian yang dilengkapi data kuantitatif, kini perlu ditambah dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan/organisasi. Cantumkanlah sebanyak mungkin kontribusi Anda terhadap perusahaan/organisasi. Gunakan cara sederhana berikut. Pikirkanlah: “Dengan kontribusi saya, prestasi apa saja yang perusahaan dapatkan yang sebelumnya tidak dimilikinya?” “Dengan prestasi tersebut, apa saja keuntungan yang didapatkan perusahaan?” Contohnya:
Keahlian: Melakukan penggalangan dana
Data kuantitatif: Berhasil menggalang dana sebesar Rp 5 milyar dari perusahaan dan individu.
Keuntungan: Berhasil melakukan penggalangan dana sebesar Rp 1,5 milyar dari perusahaan dan individu, sehingga memungkinkan lembaga menjalankan proyek-proyek pemberdayaan usaha kecil tanpa meminjam dana dari pihak lain.
Contoh lain:
• Memajukan waktu pengembalian hutang dari 90 hari menjadi 80 hari, sehingga memaksimalkan pemasukan.
5. Cantumkan Prestasi diluar Pekerjaan Sebaiknya Anda mencantumkan prestasi di luar pekerjaan, terutama jika Anda pernah diangkat untuk menduduki suatu posisi. Contoh:
• Diangkat menjadi Bendahara Perkumpulan Geologi • Diangkat menjadi Sekretaris Komunitas Pencinta Sastra • Diangkat sebagai Ketua Panitia Festival Musik Jazz
Apakah maksud “diangkat”? Kata ini secara halus mengatakan, “Teman-teman dan kolega saya di luar konteks pekerjaan menganggap bahwa saya dapat diandalkan, jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya, sehingga saya dipilih karena mereka berharap agar saya dapat mengemban tugas ini dan itu.” Kata-kata “dinominasikan”, “dipilih, dan “diundang” pun memiliki kesan yang sama.
Bagaimana dengan prestasi Anda dalam olahraga, baik yang baru maupun yang lama? Bahkan bila usia Anda di atas 50 tahun pun Anda masih tetap bisa menyebutkan bahwa Anda pernah ikut ambil bagian dalam kegiatan olahraga yang mewakili keluarga, sekolah, atau tim lainnya.
6. Menjelaskan Minat/Hobi Apa minat/hobi Anda? Anda bisa saja mencantumkan “membaca”, tetapi banyak orang mencantumkan itu. Tentu akan lebih menarik bila Anda menyertakan deskripsi, misalnya:
• Membaca, terutama novel-novel Indonesia jaman Balai Pustaka • Membaca, terutama otobiografi pengusaha sukses
Begitu pula untuk minat/hobi lainnya, misalnya:
• Mendengarkan musik: pop, jazz, klasik • Olahraga: futsal, badminton
7. Mengurutkan Minat/Hobi Ada beberapa kegiatan yang perlu Anda cantumkan sebagai minat/hobi dan kegiatan di waktu senggang. Namun jangan terlalu banyak menyebutkan jenis kegiatannya karena bisa memberi kesan Anda tidak punya waktu sisa untuk bekerja dan beristirahat.
Minat dan aktivitas di luar kerja memperlihatkan penggunaan waktu Anda dan penggunaan sisa gaji Anda. Dari informasi ini, calon atasan Anda bisa menerka-nerka nilai, motivasi, dan kadangkala intelegensi Anda.
Misalnya, ada seseorang yang memiliki minat berikut:
• kartu • teka-teki silang • desain software
orang tersebut kelihatannya:
• cukup intelek • dapat memecahkan masalah • akurat dan mungkin kompetitif
Misalnya ada orang lain yang:
• menyukai tenis • suka entertainment • mengoleksi mobil kuno
orang tadi sepertinya:
• kompetitif • mudah bergaul • mungkin praktis
Apa kira-kira minat yang akan Anda cantumkan dalam CV? Tulislah tiga minat Anda dan coba perlihatkan kepada teman-teman – yang tidak terlalu akrab dengan Anda – lalu tanyakan, “Orang seperti apa yang menurut Anda dicerminkan oleh minat-minat ini?” Apakah kesan yang mereka tangkap sama dengan kesan yang ingin Anda tampilkan? Jangan lupa untuk menambahkan deskripsi. Contoh:
• Menerjemahkan cerpen berbahasa Prancis ke dalam Bahasa Indonesia • Televisi – terutama drama • Keluarga – menghabiskan waktu bersama anak-anak
Kesan yang ditimbulkan ketiga hal di atas lebih menarik dibandingkan di bawah ini:
• Keluarga • Televisi • Terjemahan Bahasa Prancis
Urutan ketiga minat tadi bisa diubah karena calon atasan mungkin tertarik akan kemampuan Anda berbahasa Prancis, sehingga dalam kasus ini contoh pertama lebih cocok.
Minat dapat mempengaruhi wawancara Anda. Ingat bahwa pewawancara terpancing untuk menanyakan apa yang Anda tulis pada CV. Bersiaplah untuk dihadapkan pada sederetan pertanyaan, bahkan untuk diuji sampai tetes darah penghabisan. Jika Anda benar-benar tidak dapat menemukan minat yang memberi kesan menarik, cantumkanlah “Berita-berita Terkini” dan pastikan Anda membaca tiga edisi terakhir media-media ternama sebelum Anda datang ke wawancara.
Jangan cantumkan minat Anda yang mungkin akan dinilai berbahaya seperti terjun dari pesawat terbang. Bila calon atasan Anda bukan orang yang menyukai hobi seperti ini, sebaiknya jangan cantumkan minat ini. Salah satu alasannya adalah beban yang harus ditanggung perusahaan akan lebih besar jika Anda terkena cidera atau tertimpa musibah dibandingkan orang yang memiliki hobi membaca atau mendengarkan musik.
8. Jangan Bercanda Ada orang-orang yang mencoba menampilkan kesan unik dengan cara bercanda atau bergurau dalam CV mereka. Jangan coba-coba melakukan ini. Proses seleksi dan adalah hal yang serius. Bisnis rekrutmen adalah bisnis yang tidak berpikir tentang risiko – tidak seperti dunia hukum atau akuntansi. Jika lebih mudah bagi perekrut untuk mengatakan “tidak” dibandingkan “ya”, maka mereka akan berkata “tidak”. Pada dasarnya, para perekrut selalu berkata “tidak” pada gurauan atau lelucon. Mereka bersikap seperti itu bukan karena mereka tidak humoris, tapi karena kesuksesan pekerjaan mereka bergantung pada ketepatan mereka memilih kandidat. Menurut Anda, bagaimanakah nasib para perekrut/HRD yang selalu memilih kandidat yang salah? Mereka pun akhirnya ikut terjun dalam pencarian kerja.
Membuat lelucon dalam kehidupan sehari-hari saja sudah cukup sulit, apalagi di atas kertas. Berikut ini adalah contoh beberapa lelucon dalam CV. Lelucon tentang minat: • Sepak bola, sepak bola, dan sepak bola lagi
Lelucon tentang alasan meninggalkan perusahaan terdahulu: • Mencari gaji yang lebih besar agar dapat membayar uang sekolah
Lelucon tentang prestasi: • Berkutat dengan sistem password dan berhasil memecahkannya
Intinya: Jangan coba-coba bercanda di dalam CV. CV Anda harus bernada serius jika Anda ingin ditanggapi dengan serius.
Rekrutmen itu kadang tidak adil. Walaupun mungkin sudah ada kebijakan-kebijakan dari pemerintah maupun perusahaan/organisasi yang sengaja dibuat untuk memperkecil diskriminasi, namun kadang masih tetap terjadi. Sementara banyak pelamar tidak menyadari tentang informasi yang berpotensi menimbulkan perlakuan sikap yang berbeda atau adanya prasangka buruk dari rekruiter, seperti status pernikahan, kesehatan, usia, penampilan fisik dan lain-lain. Untuk menghindari terjadinya sikap diskriminatif, simaklah kiat-kiat berikut ini:
1. Hati-hati dengan status pernikahan 2. Jika anda sehat, katakanlah 3. Ketika kekurangan menjadi kelebihan 4. Cantumkan usia anda, jika sesuai kriteria 5. Jika tidak sesuai kriteria, jangan cantumkan usia anda 6. Biarkan usia anda diketahui saat interview
1. Hati-hati dengan Status Pernikahan Masyarakat kita pada umumnya masih berpandangan bahwa urusan rumah tangga, khususnya mengurus dan membesarkan anak adalah urusan perempuan, sementara laki-laki bekerja mencari nafkah. Stereotipe seperti ini, sayangnya, juga kadang terjadi dalam proses rekrutmen. Meskipun pada dasarnya perempuan dilindungi oleh hak asasi manusia [HAM], termasuk HAM bagi perempuan, namun banyak atasan yang belum memahami hal ini atau kalaupun sudah mengerti tentang ini, ada yang enggan menerapkannya di perusahaan/organisasi. Mereka khawatir urusan rumah tangga akan menggangu performa kerja perempuan. Meski pada kenyataannya urusan rumah tangga adalah urusan bersama perempuan dan laki-laki. Karena proses rekrutmen bisa sangat diskriminatif, disarankan bahwa jika Anda seorang laki-laki, cantumkan status pernikahan Anda, namun jika Anda seorang perempuan, jangan cantumkan status pernikahan Anda.
2. Jika Anda Sehat, Katakanlah Perlukah Anda memberitahukan calon atasan Anda mengenai kondisi kesehatan Anda? Sebenarnya masalah kondisi kesehatan Anda cukup Anda saja yang tahu. Akan tetapi, calon atasan tentunya menginginkan karyawan yang dapat bekerja daripada tidak dapat bekerja karena mengidap penyakit dan mengakibatkan perusahaan mengeluarkan biaya pengobatan. Karena itu, jika Anda sehat, katakanlah – bila Anda merasa perlu. “Baik” biasanya kata yang paling sering digunakan untuk menerangkan kondisi kesehatan.
Cara lain untuk menciptakan kesan bahwa Anda sehat adalah dengan menyertakan informasi tentang aktivitas olahraga dalam minat atau hobi Anda, dan bila memungkinkan, informasi prestasi olahraga, kapan pun Anda meraihnya. Referensi semacam ini menunjukkan bahwa Anda sehat pada suatu saat dalam kehidupan Anda. Ini pun mengisyaratkan bahwa Anda kini masih sehat.
Atasan memiliki alasan-alasan yang jelas mengapa mereka cenderung menolak kandidat yang lemah dan sakit, seberapa pun sehatnya mereka sekarang. Tempat terbaik untuk mengukur kecocokan kondisi kesehatan Anda dengan pekerjaan yang Anda lamar adalah pada saat wawancara, bukan pada tahap CV. Jadi, bila Anda sehat, sebutkanlah.
Jika kondisi kesehatan Anda kurang baik, jangan cantumkan pada CV. Alasan mengapa Anda kembali kerja pastilah karena Anda sehat. Topik semacam ini cukup dibicarakan pada saat wawancara saja. Jika ada dua kandidat yang menawarkan keahlian dengan pengalaman yang sama, namun salah satunya mengakui bahwa ia pernah mengidap penyakit yang cukup serius sedangkan kandidat yang lainnya tidak (walaupun ia juga pernah mengidap penyakit yang sama), sudah jelas kandidat yang mana yang akan diberikan kesempatan wawancara lebih dahulu.
3. Ketika Kekurangan Menjadi Kelebihan Ada pengecualian apabila Anda cacat jasmani atau lebih tepatnya diffable [different abilities] yang berarti memiliki kemampuan yang berbeda. Banyak atasan yang menerapkan aturan diskriminasi positif terhadap orang diffable di tempat kerjanya. Apabila kemampuan yang berbeda tersebut tidak menghambat kinerja secara langsung, kondisi ini bisa jadi justru akan menjamin Anda mendapatkan panggilan wawancara.
Jika kemampuan yang berbeda itu tampak jelas, sebaiknya informasikan hal ini pada calon atasan Anda sebelum datang wawancara [baik hal itu telah disinggung pada CV maupun belum]. Jika Anda menggunakan kursi roda, misalnya, bila Anda tidak memberitahukan terlebih dahulu pada calon atasan, maka yang diingat atasan terhadap wawancara Anda adalah kondisi Anda, sementara keahlian dan pengalaman yang dapat Anda sumbangkan bagi perusahaan/organisasi mungkin tidak terlalu lekat dalam ingatannya.
4. Cantumkan Usia Anda, Jika Sesuai Kriteria Banyak palamar yang secara otomatis mencantumkan usianya. Informasi mengenai usia bisa menguntungkan dan merugikan Anda. Apabila dalam lowongan pekerjaan disebutkan kriteria maksimal 28 tahun, jika usia Anda masuk dalam kriteria tersebut, maka cantumkan usia tersebut. Hal ini bisa membuat lamaran Anda lolos seleksi tahap pertama, atau lolos kualifikasi awal. Banyak pelamar yang usianya melebihi kriteria, tetap mengirimkan lamarannya. Jika terlihat usia mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan perusahaan/organisasi, maka lamaran itu, bisa dimasukkan dalam tumpukan “DITOLAK”
5. Jika Tidak Sesuai Kriteria, Jangan Cantumkan Usia Anda Jika usia Anda sudah melewati batas kriteria/kualifikasi, tidak ada salahnya Anda tetap mengirimkan CV namun tanpa mencantumkan usia dan tanggal lahir Anda. Seringkali HRD sulit mendapatkan orang yang memenuhi semua kriteria. Mungkin saja Anda lolos seleksi karena pengalaman Anda memadai, meski usia Anda sudah melewati batas yang ditentukan.
6. Biarkan Usia Anda Diketahui Saat Interview Jika tidak ada informasi atau kriteria mengenai usia, sebaiknya Anda tidak mencantumkan usia Anda. Sebab Anda tidak tahu secara pasti staf seperti apa yang dibutuhkan. Misalnya: apakah yang dibutuhkan staf yang dengan jam terbang tinggi atau seorang pemula?
Umur tertentu memberi kesan tertentu. Ada yang menganggap orang-orang dengan umur sampai 35 tahun masih energik, sementara yang lebih tua diapandang kurang energik, dan kurang produktif. Ada juga yang mengganggap bahwa orang di bawah usia 28 tahun adalah orang yang belum banyak pengalaman bekerja dan belum matang menghadapi lingkungan kerja, sementara usia di atasnya dilihat lebih berpengalaman lebih matang, dan lebih bisa memimpin. Dan ada beberapa stereotipe lain mengenai umur.
Karena ada stereotipe semacam ini, maka sekali lagi, jika Anda tidak mendapat informasi tentang umur, maka sebaiknya hilangkan saja informasi mengenai umur Anda. Biarkan pihak perusahaan mengetahui usia Anda saat interview. Dengan demikian Anda bisa menunjukkan pengetahuan dan kemampuan Anda, serta kontribusi yang bisa Anda berikan bagi perusahaan, sehingga faktor umur bisa dikesampingkan.
7. Jika Tidak Diminta, Jangan Lampirkan Foto Naluri dasar manusia adalah mengamati orang lain kemudian menilainya. Nilai yang diberikan bisa positif maupun negatif. Di negara-negara maju, seperti di beberapa negara bagian Amerika Serikat, ada peraturan yang melarang perusahaan/organisasi meminta pelamar kerja melampirkan foto bersama CV-nya. Alasannya karena hanya dengan melihat foto, penilaian subyektif bisa timbul dengan mudah.
Ada kemungkinan Anda akan menjadi korban diskriminasi visual, kecuali Anda adalah salah satu dari 5% orang di dunia yang diberkahi dengan wajah ganteng atau cantik. Riset menunjukkan bahwa kriminal yang dianggap berparas ganteng atau cantik mendapatkan hukuman yang lebih ringan dibandingkan kriminal yang tidak ganteng/cantik.
Media massa adalah industri yang senantiasa menciptakan stereotipe dan citra. Selain ganteng dan cantik, semua pembawa berita di televisi juga terlihat berwibawa. Jarang sekali ada seorang pembawa berita yang berbadan gemuk, walaupun sebenarnya orang berbadan gemuk mampu membaca naskah berita. Jika paras Anda biasa-biasa saja, seperti orang pada umumnya, jangan sertakan foto.
Di iklan-iklan lowongan pekerjaan, kita sering membaca kualifikasi yang diinginkan perusahaan adalah orang yang “berpenampilan menarik”. Nah, menarik ini sebenarnya relatif. Lantas bagaimana kita mengetahui menarik yang bagaimanakah yang diinginkan perusahaan? Karena serba relatif, bila kita belum mendapat gambaran yang pasti tentang apa yang dianggap menarik oleh perusahaan itu, sebaiknya jika tidak diminta, jangan lampirkan foto.
Seandainya Anda mempunyai wajah ganteng/cantik, Anda tetap bisa terdiskriminasi karena mungkin wajah Anda kebetulan mirip dengan seseorang yang dibenci staf penyeleksi, atau karena alasan lainnya seperti gender, ras, suku, agama. Karena itu, sekali lagi, jika tidak diminta, jangan lampirkan foto.
8. Berikan Foto Studio Jika Anda diminta untuk melampirkan foto, maka Anda memang harus memberikannya. Untuk itu, jangan ragu untuk mengeluarkan uang lebih. Foto yang diambil di boks foto memang cukup bagus, tapi hanya cocok dipasang di KTP atau kartu semacamnya. Ambilah foto diri Anda di studio dan terangkan kepada fotografer, kesan seperti apa yang Anda inginkan. Carilah tiga kata sifat untuk menjelaskan citra yang Anda sudah miliki atau ingin munculkan. Contoh tiga kata sifat yang seringkali terbukti berhasil adalah:
• kompeten, dinamis, dan mau bekerja keras • profesional, teliti, dan dapat diandalkan • kreatif, antusias, dan dinamis
Apa pun tiga kata sifat yang cocok dengan Anda, atau yang sesuai dengan tipe pekerjaan yang Anda incar, minta kepada fotografer agar Anda difoto setengah tersenyum. Biasanya seseorang yang difoto setengah tersenyum akan dinilai lebih cerdas, lebih bersahabat, dan lebih mudah bergaul. Memang itulah sebenarnya hal-hal yang dicari dalam diri seorang pekerja.
Pakaian berwarna gelap membuat Anda terlihat lebih berwibawa, sehingga bila cocok, kenakanlah pakaian semacam ini saat Anda difoto. Namun, hati-hati dengan perusahaan/organisasi yang tidak mengharuskan karyawannya berpakaian formal. Di beberapa lembaga non-profit Indonesia atau asing, para karyawannya mengenakan T-shirt di tempat kerja. Jadi, cari informasi terlebih dahulu tentang kebiasaan berpakaian di perusahaan/organisasi tersebut. Walaupun tidak formal, kemeja berkerah dan celana berwarna gelap tetap berkesan formal.
Isi CV tetap merupakan aspek terpenting, tetapi aspek lainnya juga mesti diperhatikan. Bayangkan saja jika perekrut dihadapkan dengan puluhan bahkan ratusan CV, lalu ia mendapatkan CV yang kacau-balau dan tampilannya tidak menarik, pastilah muncul godaan untuk menyingkirkan CV yang tidak menarik. Untuk apa menghabiskan waktu membaca CV yang semacam itu bila CV berikutnya jauh lebih menarik? Jangan biarkan jerih payah menyusun isi CV Anda menjadi sia-sia hanya karena tampilannya tidak menarik.
Ingat, jika CV Anda memberi kesan bahwa Anda menulisnya dengan sungguh-sungguh, CV Anda akan diloloskan ke tahap selanjutnya. Anda tentunya pernah mengalami hal serupa. Bila Anda melewati sebuah toko yang menampilkan barang yang tidak menarik di etalasenya, maka Anda tidak akan memperhatikan toko tersebut. CV Anda adalah etalase yang menampilkan karir Anda. Jangan biarkan perekrut melewatinya begitu saja. Agar tampilan CV Anda menarik, ikutilah tip-tips berikut ini:
1. Gunakan kertas berkualitas 2. Pilih ukuran dan warna kertas standar 3. Pilih font standar 4. Grafis yang minimal 5. Manfaatkan halaman belakang dan halaman sebelah kanan 6. Membatasi jumlah halaman 7. Menggunakan formulir lamaran
1. Gunakan Kertas Berkualitas Mungkinkah Anda datang ke wawancara kerja mengenakan pakaian santai? Tentunya tidak, tapi anehnya, banyak orang mengirimkan CV yang ditulis di atas kertas HVS biasa. Memang wawancara tidak ditentukan oleh kualitas kertas CV Anda, tetapi penampilan dan kesan pertama semakin lama semakin diperhitungkan dalam proses rekrutmen. “Kesan pertama tidak datang dua kali” demikian kata orang. Anda tidak ingin ‘brosur’ diri Anda tercantum di atas kertas berkualitas rendah, bukan? Kertas CV Anda, sama halnya dengan pakaian yang Anda kenakan saat wawancara, harus yang bagus. Begitu pula surat pengantar beserta amplopnya. Kertas dan amplop berkualitas bagus, seperti art paper, bisa Anda beli di toko buku atau toko kertas dengan jenis dan harga yang bervariasi. Ingat, bagus belum tentu berarti mahal.
2. Pilih Ukuran dan Warna Kertas Standar CV Anda sebaiknya diketik di kertas ukuran A4 berwarna putih, karena saat ini rata-rata perusahaan menggunakan kertas dengan ukuran dan warna itu. Untuk pekerjaan Humas dan Pemasaran, mungkin bisa menggunakan kertas berwarna pastel atau yang lebih tajam, tetapi untuk amannya, gunakan kertas A4 warna putih yang berkualitas.
Namun ingat: jangan berlebihan. Jangan gunakan kertas yang bercorak atau dihiasi ornamen. Kertas semacam ini cocoknya digunakan untuk menulis surat informal atau undangan pesta.
3. Pilih Font Standar Agar CV Anda tampak profesional, jenis huruf atau disebut font dalam program komputer, harus menggunakan font yang standar, seperti Times New Roman, Arial atau Verdana. Font yang digunakan harus mudah dibaca.
Ukuran font yang dipakai sebenarnya tergantung pilihan Anda, namun ukuran yang umum dipergunakan berkisar antara 10 sampai 12. Jika ukurannya lebih kecil dari itu, bisa membuat sakit mata. Jika ukurannya lebih besar dari ukuran normalnya, maka akan memberi kesan kasar atau kurang sopan.
Berikut ini adalah font-font pada program komputer yang umum digunakan dalam CV:
4. Grafis yang minimal Mengingat staf HRD hanya punya waktu sekitar 30 detik untuk melihat CV Anda secara sekilas, maka upayakanlah agar dalam waktu sempit itu, pembaca CV Anda langsung dapat melihat informasi-informasi penting dan relevan. Untuk itu, sebaiknya CV Anda tidak dihiasi elemen grafis yang macam-macam seperti ornamen-ornamen pada garis tepi atau corak warna-warni antar sub-judul karena hal ini menimbulkan kesan “ramai” dan akan membuat informasi yang penting jadi tidak mencolok atau tenggelam. Karena itu elemen grafis yang bisa Anda manfaatkan sebaik-baiknya adalah font sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Elemen grafis lainnya yang bisa Anda aplikasikan pada CV Anda adalah garis tipis sederhana yang dipakai untuk memisahkan sub-judul yang satu dengan sub-judul berikutnya. Untuk membuat informasi penting cepat terdeteksi, Anda bisa menggunakan bullet points atau simbol-simbol kotak ▪, atau lingkaran ●.
5. Manfaatkan Halaman Belakang dan Halaman Sebelah Kanan Jika Anda harus menuliskan hal-hal yang kurang Anda sukai, ada dua cara untuk melakukannya. Pertama, tulislah hal tersebut di halaman yang belakang [halaman kedua atau ketiga], dan tulislah pada bagian sebelah kanan.
Cantumkan informasi yang kurang menguntungkan tadi di halaman belakang agar paling tidak perekrut melihat informasi yang positif terlebih dahulu. Jadi informasi yang dirasa negatif bisa diperhitungkan secara komprehensif dengan mempertimbangkan sisi positifnya. Misalnya, jika posisi yang Anda incar menghendaki gelar kesarjanaan tapi Anda tidak memilikinya namun memiliki pengalaman yang sesuai, tuliskan riwayat karir terlebih dahulu, baru pendidikan Anda.
Bila Anda tidak memiliki gelar kesarjanaan dan Anda harus bersaing dengan para pelamar yang memiliki berbagai macam gelar yang menghiasi nama mereka, Anda tidak perlu menuliskan riwayat pendidikan Anda. Ada kemungkinan bagian ini tidak “terdeteksi”.
Mengapa sebaiknya Anda memanfaatkan sisi sebelah kanan? CV biasanya dibaca secara sepintas lalu. Ketika orang membaca tulisan secara sepintas lalu, mereka membaca dari kiri ke kanan, sehingga bagian sebelah kiri lebih diperhatikan dan diteliti dibandingkan yang di sebelah kanan.
6. Membatasi Jumlah Halaman Sebagaimana telah disebutkan di bab-bab terdahulu, Anda tidak perlu menceritakan setiap hal dalam CV. Buatlah CV Anda sesingkat mungkin. Seperti apakah singkat itu? Ada kalanya, CV sebanyak dua atau tiga halaman, masih saja dianggap kurang. Banyak pula orang yang menyarankan bahwa satu halaman saja sudah cukup. Namun sebaiknya, semakin tinggi posisi Anda, semakin pendek CV Anda. Tiga halaman untuk posisi Manajer Senior dan empat halaman untuk posisi junior lainnya sudah lebih dari cukup.
Anda harus ingat bahwa ini hanyalah panduan, bukan aturan. Seorang Eksekutif Senior yang berniat mencoba karir yang berbeda, perlu memperlihatkan bahwa ia adalah orang yang memiliki keahlian yang beragam dan orang yang fleksibel. Karena itu, mungkin ia membutuhkan satu-dua halaman tambahan.
7. Menggunakan Formulir Lamaran Anda pasti akan sangat kesal bila kerja keras Anda menyusun CV selama berjam-jam dan mengirimkannya berserta surat lamaran kerja hanya dibalas dengan permintaan untuk mengisi formulir lamaran yang telah disediakan perusahaan/organisasi.
Ini mungkin menjengkelkan Anda, tapi ingat dua hal ini. Pertama, tidak semua orang mendapat balasan formulir lamaran. Berarti, CV Anda telah menjalankan tugasnya. Kedua, jarang sekali ada formulir lamaran yang menyediakan kesempatan bagi pelamar untuk mencantumkan semua kualifikasi yang diminta. Berarti, CV Anda masih berperan dalam menyukseskan Anda mendapatkan panggilan wawancara.
Fungsi formulir lamaran bagi atasan menyerupai fungsi seragam bagi tentara untuk mempermudah penempatan setiap orang. Bagi perekrut lebih mudah melakukan wawancara dengan formulir lamaran, karena mereka tahu letak informasi yang mereka perlukan, baik pengalaman, keterangan pribadi, maupun keahlian. Jalannya wawancara tidak akan terganggu meskipun perekrut harus sesekali waktu melihat isi formulir karena ia tahu pasti di mana letak informasi yang ia cari. Bila ia harus membaca CV dengan seksama, wawancara akan terhambat dan komunikasi tidak akan berjalan lancar.
Anda harus melengkapi formulir yang telah disediakan, tetapi Anda dapat menuliskan di berbagai bagian, terutama yang menerangkan pengalaman dan prestasi, “Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat CV”, yang tentunya telah Anda sertakan. Jangan mengira bahwa atasan menyimpan CV atau arsip Anda yang sebelumnya. Memang tidak ada jaminan bahwa CV Anda akan dibaca lagi, tapi paling tidak Anda telah berusaha sebaik mungkin.
Sebelum mengirim CV Anda, cobalah periksa kembali keseluruhan CV itu. Berikut ini adalah hal-hal yang harus Anda perhatikan:
1. Jangan cantumkan alasan meninggalkan pekerjaan 2. Utamakan pengalaman kerja daripada pendidikan 3. Dahulukan disiplin ilmu daripada tempat dan tahun 4. Cantumkan mata pelajaran yang relevan 5. Cantumkan mata pelajaran, jika Anda fresh graduate 6. Jangan katakan tidak punya pengalaman kerja 7. Daftar informasi yang sebaiknya dihilangkan 8. Daftar larangan
1. Jangan Cantumkan Alasan Meninggalkan Pekerjaan Saat ini, masih ada orang yang berpikiran bahwa orang-orang bisa bekerja di satu tempat sampai pensiun. Ini adalah pola pikir yang lazim untuk puluhan tahun yang lalu, ketika sekali seseorang diterima kerja di sebuah perusahaan/organisasi, berarti ia bisa bekerja di sana selamanya. Pada masa itu, berganti-ganti pekerjaan seperti yang banyak dilakukan sekarang, dianggap tidak baik karena menandakan ketidakstabilan.
Mesku jaman telah berganti, namun masih ada orang-orang yang berpikiran semacam ini. Oleh karena itu, sebaiknya Anda tidak mencantumkan alasan meninggalkan pekerjaan yang terdahulu dalam CV ataupun surat lamaran kerja Anda. Ingat, Andalah yang memegang kendali atas CV Anda. Lagipula, hanya ada empat alasan mendasar mengapa seseorang berganti pekerjaan, yaitu:
• prospek yang lebih baik, • gaji yang lebih tinggi, • mutasi, • pemecatan.
Apapun alasannya, Anda tetap akan terlihat sebagai seorang pekerja yang berisiko bagi perusahaan/organisasi jika mengungkapkan alasan meninggalkan pekerjaan terdahulu. Karenanya, lebih baik Anda menerangkan hal semacam ini saat wawancara, daripada menuliskannya pada CV.
2. Utamakan Pengalaman Kerja daripada Pendidikan Pelamar kerja dengan latar belakang pendidikan yang baik cenderung mencantumkan banyak informasi tentang pendidikannya di dalam CV. Hal ini karena tidak ada aspek lain yang dapat mereka tonjolkan. Bila Anda memiliki pengalaman kerja, sebaiknya Anda menekankan pada aspek pengalaman kerja ini. Atasan, kecuali mereka yang bergerak dalam bidang akademis, biasanya lebih tertarik dengan apa yang Anda dapat sumbangkan kepada perusahaan, bukan seberapa hebat riwayat pendidikan yang Anda miliki.
Kadangkala, pelamar dengan latar belakang pendidikan dari universitas yang terpandang tidak menyetujui hal ini. Coba tanyakan pada diri Anda “Jika saya akan dimasukkan ke dalam Unit Gawat Darurat, siapa yang saya pilih untuk mengoperasi saya: seseorang yang baru lulus kuliah dari universitas ternama tapi belum pernah melakukan operasi, atau paramedik yang telah sukses melakukan sejumlah operasi namun bukan dari univeritas ternama?” Tentunya si paramedik. Yang ideal adalah bila seseorang memiliki pendidikan berkualitas sekaligus pengalaman, tapi apabila harus memilih, pengalaman lebih penting daripada pendidikan.
3. Dahulukan Disiplin Ilmu daripada Tempat dan Tahun Disiplin ilmu pendidikan Anda lebih penting dibandingkan tempat dan waktu Anda mendapatkannya. Ada cukup banyak pelamar yang menuliskan tahun pendidikan di awal informasi lainnya. Bila usia Anda sudah cukup tua, cara penulisan seperti ini justru hanya akan mengungkapkan berapa usia Anda – “Orang ini kuliah bahkan sebelum saya lahir!” Selain itu, di dalam era yang terbiasa dengan berbagai perubahan yang cepat, banyak gelar sarjana yang tak terpakai lagi. Ingat, yang perlu diutamakan adalah kemampuan intelektual, konseptual, dan analisis Anda.
4. Cantumkan Mata Pelajaran yang Relevan Jika Anda mengincar karir dalam bidang ilmu pengetahuan, Anda perlu mencantumkan mata pelajaran yang pernah Anda dapatkan. Namun tidak semua mata pelajaran perlu dicantumkan. Jika Anda ingin berkiprah di bidang ilmu pengetahuan alam, misalnya, tidak perlu Anda mencantumkan setiap mata pelajaran terdahulu, seperti: • Bahasa Inggris, Sejarah, Bahasa Perancis, Geografi, Matematika, Kimia, dan Fisika
Lebih menarik bila yang Anda cantumkan: • Matematika, Fisika, Kimia.
5. Cantumkan Mata Pelajaran, Jika Anda Fresh Graduate Jika Anda baru lulus sekolah atau kuliah, dan belum memiliki pengalaman kerja yang memadai, sebaiknya Anda mencantumkan mata pelajaran yang pernah Anda dapatkan. Hal ini akan memberi kesan bahwa Anda memiliki pengetahuan atau keterampilan dalam bidang tersebut.
Mata pelajaran yang Anda cantumkan, sebaiknya yang relevan dengan bidang pekerjaan yang Anda incar. Namun Anda perlu juga mencantumkan mata pelajaran lain yang bisa mendukung pekerjaan Anda, seperti pelajaran Bahasa Inggris, komputer dan lain-lain.
Daftar mata pelajaran ini biasanya diletakkan pada bagian pendidikan, dibawah nama nama sekolah/kampus Anda. Berikut adalah contoh penulisan daftar mata kuliah seorang lulusan teknik informatika:
PENDIDIKAN Sarjana Teknik Informatika, 2003 Fakultas Teknik Informatika, STMIK Dipanegara Makassar Mata Kuliah yang pernah dipelajari, antara lain: Pengantar Sistem Informatika, Organisasi Sistem Komputer, Mikro Processor, Interaksi Manusia Komputer, Pengeloaan Data Terdistribusi, Pengelolaan Instalasi Komputer, Rangkaian Digital, Sistem Basis Data, Sistem Basis Informasi, Bahasa Inggris 1&2, Fisika Dasar 1&2, Kalkulus 1&2, Manajemen Proyek
6. Jangan Katakan Tidak Punya Pengalaman Kerja Banyak orang yang dengan jujur – secara tersirat atau tersurat – mengatakan di CV maupun surat lamarannya bahwa mereka belum punya pengalaman kerja. Anda akan rugi sekali jika memberi informasi ini, mengingat sebagian pelamar lain yang pasti memiliki pengalaman kerja.
Jika Anda memang belum pernah bekerja, Anda dapat menulis di bawah pengalaman kerja, pekerjaan atau kegiatan yang pernah lakukan, baik yang dibayar ataupun tidak. Misalnya Anda pernah jadi Panitia sebuah konser musik, atau Anda menjalani usaha sampingan multi-level marketing, pengalaman ini bisa dimasukkan ke dalam pengalaman kerja.
Untuk fresh graduate, pengalaman magang, job training, kuliah kerja nyata dapat dimasukkan di bawah judul pengalaman kerja. Ingat, sebisa mungkin Anda mencantumkan pengalaman kerja dalam CV Anda, dan hindari mengatakan Anda tidak punya pengalaman kerja.
7. Daftar Informasi yang Sebaiknya Dihilangkan Di bawah ini terdapat beberapa informasi yang sebaiknya Anda hilangkan atau dikemas dengan diplomatis: • Tes Anda yang gagal • Kondisi kesehatan Anda, bila tidak sehat • Penyakit akut, baik fisik maupun mental • Posisi junior yang tidak relevan dengan arah karir Anda sekarang • Pengalaman kerja yang kurang dari setahun • Alasan meninggalkan pekerjaan yang terdahulu • Keterangan waktu sehubungan riwayat pendidikan • Usia anak • Status pernikahan • Keterangan waktu penahanan • Minat yang dianggap masyarakat umum berbahaya atau “berbeda”, seperti hand-gliding dan bungee jumping • Kewarganegaraan dan suku. • Afiliasi politik • Tempat lahir • Agama, kecuali bila Anda melamar di perusahaan/organisasi berbasis agama yang sama dengan agama Anda. • Kemahiran berbahasa yang tidak berguna langsung di negara-negara barat atau bagi pekerjaan yang dilamar • Kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi daripada pekerjaan yang diincar • Gaji dan tunjangan yang didapatkan saat ini • Gaji dan tunjangan yang ingin didapatkan • Foto • Referensi • Apa pun yang membuat Anda terkesan ekstrim
Harus diingat, penghilangan informasi ini sangat tergantung pada karakter Anda serta situasi dan kondisi perusahaan/organisasi yang akan Anda lamar. Jika informasi di atas sekiranya menguntungkan untuk Anda cantumkan, maka sebaiknya jangan dihilangkan. Misalnya Anda seorang perempuan yang ingin bekerja di sebuah media yang mengangkat masalah kehidupan rumah tangga, maka status menikah sebaiknya dicantumkan.
8. Daftar Larangan • Jangan berbohong • Jangan cantumkan gaji Anda saat ini • Jangan sebutkan gaji yang Anda inginkan • Jangan katakan alasan mengapa Anda meninggalkan pekerjaan yang terdahulu • Jangan gunakan “saya” kecuali bila benar-benar diperlukan • Jangan jilid CV Anda • Jangan cantumkan keterangan, singkatan, atau gelar yang asing • Jangan sertakan foto • Jangan salah mengeja • Jangan menggunakan tata bahasa yang salah • Jangan gunakan kertas berwarna • Jangan sertakan grafik yang ramai • Jangan bercanda • Jangan susun CV yang melebihi empat halaman kertas A4 • Jangan menulis karir Anda yang sudah lebih dari 15 tahun • Jangan sertakan alamat atasan yang terdahulu • Jangan sertakan referensi • Jangan gunakan format kronologis tanpa dikombinasikan dengan format performa • Jangan cantumkan terlalu banyak pelatihan intern • Jangan melebih-lebihkan isi CV Anda • Jangan mengoreksi kesalahan dengan tulisan tangan • Jangan sampai ada kekosongan dalam riwayat Anda • Jangan bertele-tele • Jangan gunakan kata dan kalimat yang panjang • Jangan sebutkan keahlian yang tidak tampak dalam prestasi Anda • Jangan gunakan istilah-istilah yang tidak populer • Jangan cantumkan tanggal menyusun CV • Jangan terkesan sombong • Jangan sebutkan minat yang aneh atau berbahaya • Jangan tujukan CV Anda kepada “Yth. Bapak” atau “Ibu” tanpa nama mereka • Jangan cantumkan logo, gambar, atau lambang keluarga – bila keluarga Anda sangat terhormat, • Jangan kirimkan CV Anda ke divisi SDM bila isinya lamaran yang terkesan datar
Ingat, semua hal di atas adalah “larangan” umum dan semua memiliki pengecualian.
Setelah CV Anda tersusun, CV Anda harus menemukan jalan menuju ke sebanyak mungkin perusahaan/organisasi yang sesuai. Herannya, ada banyak orang telah menyusun CV tapi tidak mengirimkannya, seolah-olah panggilan wawancara bisa datang dengan sendirinya.
Kepada siapa Anda mengirimkan CV? Anda harus mempelajari piramida pemasaran. CV Anda sebaiknya ditujukan kepada seseorang yang dapat:
• Memberikan Anda tawaran kerja • Mereferensikan Anda kepada seseorang yang dapat memberikan tawaran kerja • Menginformasikan Anda tentang lowongan kerja • Mereferensikan Anda kepada seseorang yang dapat memberi saran tentang pekerjaan potensial.
Untuk mendapat panggilan wawancara berarti Anda harus menceritakan kepada orang sebanyak-banyaknya bahwa Anda mencari karir yang lebih baik. Bila CV Anda hanya tergeletak di atas meja di rumah Anda, begitu pun karir Anda.
Setelah mengirim CV Anda, masih ada hal-hal yang perlu Anda lakukan, yaitu:
1. Menyiapkan referensi 2. Memonitor CV Anda 3. Membuat daftar prospek 4. Melalukan follow-up 5. Follow-up melalui telepon 6. Follow-up melalui surat
1. Menyiapkan Referensi Dalam CV, pelamar kerja sering mencantumkan beberapa nama orang untuk referensi. Tentunya orang-orang yang ada dalam referensi akan memberi penilaian baik terhadap si pelamar kerja. Jika tidak, pasti nama mereka tidak akan dicantumkan. Staf penyeleksi tahu betul akan hal ini. Karena itu, referensi dianggap tidak penting pada tahap awal seleksi. Perusahaan/organisasi baru akan meminta referensi setelah wawancara dengan pelamar kerja dilakukan. Tujuannya untuk mengkonfirmasi beberapa informasi yang didapat dari hasil wawancara. Dengan demikian, di dalam CV sebenarnya tidak perlu menyebutkan nama-nama pemberi referensi. Jika referensi tidak diminta, cukup Anda menulis: “Referensi akan disediakan jika diminta” atau “References available on request”.
Sebaiknya Anda memberi nama pemberi referensi benar-benar di tahap akhir penyeleksian. Lebih baik Anda menunda sampai wawancara selesai, karena pada saat itu, selain Anda telah memberi banyak informasi mengenai diri Anda, Anda juga telah mendapat banyak informasi tentang pekerjaan dan perusahaan/organisasi tersebut. Dengan informasi yang sudah Anda dapatkan, Anda bisa tahu kandidat macam apa yang mereka cari. Kemudian Anda dapat menentukan pemberi referensi mana yang paling cocok untuk menginformasikan kepada calon atasan Anda tentang aspek-aspek positif diri Anda yang dianggap ideal oleh mereka.
Yang bisa Anda lakukan setelah selesai menyusun CV, adalah menyiapkan referensi untuk diri Anda sendiri. Apa yang Anda ingin atasan Anda katakan tentang diri Anda? Apa yang akan Anda lakukan untuk menonjolkan prestasi kerja Anda? Setelah Anda menentukannya, Anda bisa menghubungi calon pemberi referensi dan memberitahu kepadanya keinginan, rencana, dan kegiatan terbaru yang berhubungan dengan karir Anda.
Setelah Anda menginformasikan rencana Anda kepada pemberi referensi, ingatkanlah kembali kinerja Anda dengan mengatakan kalimat seperti: “Seperti yang Anda ketahui, saya pernah melakukan “x”, yang menurut Anda baik karena...” Setelah itu, pastikan bahwa mereka memiliki salinan CV Anda agar mereka ingat akan prestasi Anda. Hal yang penting untuk diingat adalah ketika Anda ingin berganti karir, tekankanlah aspek-aspek kerja dan keahlian Anda yang berhubungan dengan keinginan Anda.
2. Memonitor CV Anda Pastikan bahwa Anda ingat CV mana yang telah Anda kirim dan ke perusahaan apa. Ini kedengarannya mudah, namun banyak pelamar yang lupa melakukannya. Sebaiknya untuk setiap pekerjaan yang dilamar, Anda menyimpan satu berkas dokumen yang minimal terdiri dari iklan lowongan perkerjaan tersebut, surat lamaran dan CV Anda. Bisa juga dilengkapi dengan profil perusahaan atau informasi yang berhubungan dengan perusahaan/organisasi.
Jangan anggap enteng hal ini. Jika Anda mendapat panggilan interview, Anda bisa mempersiapkan diri Anda dengan membaca kembali berkas-berkas tersebut. Yang juga perlu dilakukan adalah mencatat tanggal lamaran dikirim dan panggilan wawancara kerja. Dari catatan itu, Anda akan tahu rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh berbagai perusahaan/organisasi untuk merespon lamaran yang masuk.
3. Membuat Daftar Prospek Untuk melihat dengan cepat semua berkas lamaran Anda, sebaiknya Anda membuat sebuah daftar prospek, bisa dengan bantuan komputer atau tulis tangan. Daftar ini memuat informasi tentang nama kontak, posisi atau jabatan, alamat, nomor telepon, tanggal komunikasi Anda. Semua informasi dan jadwal penting Anda sebaiknya ditulis dalam daftar ini.
Tiga kolom pertama berisi nama kontak, nama perusahaan serta alamat dan nomor teleponnya. Kolom keempat berisi sumber informasi lowongan kerja, misalnya dari iklan di koran atau situs internet, jasa pencari kerja [headhunter] dan informasi dari jaringan relasi Anda [networking]. Kolom kelima sampai kedelapan memuat tanggal kirim CV, follow-up, interview, dan surat terima kasih [pasca intreview]. Tanggal yang dicatat pada kolom-kolom ini bukan hanya kegiatan yang telah dilakukan tetapi juga yang akan dilakukan. Pada kolom kesembilan, Anda bisa memberi keterangan atau informasi tambahan untuk sekedar mengingatkan Anda sendiri.
4. Lakukan Follow-up Setelah surat lamaran dan CV Anda dikirim, sebaiknya Anda melakukan follow-up atau tindak lanjut. Tujuannya, untuk memastikan apakah CV sudah diterima, atau apakah lowongan tersebut masih tersedia. Ada dua teknik untuk melakukan follow-up, yakni via telepon dan surat. Bilamana memungkinkan, lakukanlah follow-up melalui telepon karena jawaban bisa didapat dengan cepat. Namun jika Anda tidak tahu nama dan nomor telepon perusahaan/organisasi, karena tidak tercantum dalam iklan lowongan, atau jika dalam iklan lowongan disebutkan bahwa Anda tidak boleh menelepon, maka follow-up harus dilakukan via surat.
Follow-up setelah interview biasanya dilakukan dengan mengirim surat terima kasih atau biasa disebut surat pasca interview. Yang perlu disampaikan dalam surat ini, pertama, tentunya Anda berterimakasih kepada orang-orang yang meluangkan waktunya untuk mewawancarai Anda. Selain itu, secara singkat Anda ingatkan kembali kemampuan Anda yang bisa menjawab kebutuhan perusahaan atau yang bisa memberi kontribusi bagi perusahaan. Anda juga bisa memberi info tambahan yang belum Anda sampaikan dalam interview, atau solusi untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi perusahaan.
5. Follow-up melalui Telepon Untuk follow-up melalui telepon, sebaiknya Anda menghubungi orang yang Anda sebutkan [tujukan] dalam surat lamaran kerja Anda. Karena biasanya telepon akan di-screening oleh Sekretaris atau Operator, maka Anda harus menggunakan trik. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Halo, saya Ani Tyas. Bisakah saya bicara dengan Simon Pickard?” [“Hello, this is Ani Tyas. May I speak to Simon Pickard?”] Dengan mengucapkan nama depan dan belakang tanpa menggunakan kata sapaan Mr. atau Pak, bisa memberi kesan bahwa Anda selevel dengan orang yang ingin Anda hubungi dan karena itu mungkin lebih diperhatikan.
Jika Anda mendapat informasi lowongan tersebut dari rekannya, pastikan bahwa hal ini yang Anda sampaikan pertama kali. Cara ini bisa meningkatkan kredibilitas Anda.
Setelah memperkenalkan diri Anda, tanyakan apakah ia sudah menerima CV Anda, kemudian tanyakan apakah ada pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Jika orang itu nampak tertarik dan kelihatan ada peluang untuk interview, buatlah jadwal untuk bertemu. Katakan bahwa Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang pekerjaan dan perusahaan/organisasi itu. Jangan lupa untuk mengulang tempat, tanggal, dan jam pertemuan tersebut untuk memastikan bahwa informasi yang Anda catat tidak keliru. Ada baiknya Anda menggunakan catatan telepon seperti di bawah ini:
6. Follow-up melalui Surat Jika Anda tidak bisa menelpon karena dalam iklan hanya tertulis alamat PO Box atau tertulis “no phone calls”, maka follow-up harus dilakukan melalui surat. Pastikan surat Anda dibuat dengan singkat dan jelas dan berisi:
• Anda menulis surat untuk menanyakan apakah CV Anda sudah diterima atau belum • Anda masih tertarik dengan lowongan tersebut karena alasan A, B, C • Anda memiliki pengalaman dan keterampilan X, Y, Z yang cocok untuk pekerjaan tersebut dan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan • Anda berharap diberikan kesempatan untuk bertemu untuk menjelaskan kontribusi yang dapat Anda berikan bagi perusahaan.
Contoh follow-up surat bisa dilihat di bawah ini.
Jakarta, 19 Juli 2009
Kepada Yth. Ibu Lili Purwani PT. Ecom Indonesia Jl. Sudirman Kav. 007 Jakarta
Dengan hormat,
Dua minggu yang lalu saya mengirimkan surat lamaran kerja dan CV untuk posisi Analis Sistem. Sehubungan dengan itu, saya ingin meminta konfirmasi apakah CV tersebut telah diterima. Sampai saat ini, saya masih tertarik bekerja di PT. Ecom Indonesia karena perusahan ini terkenal atas kecanggihannya membuat software online marketing, terutama dengan mengaplikasikan sistem penerjemahan multi bahasa.
Lima tahun ini, saya mengerjakan riset di Ecommerce University, dalam rangka merancang hi-tech software untuk Asosiasi Pemasar Berbasis Internet. Kontribusi saya itu, telah didokumentasikan oleh The Journal for Online Marketer di Amerika. Pengalaman yang saya miliki selama ini bisa menjadi aset bagi perusahaan ibu. Dengan reputasi Ecom sebagai produsen software yang inovatif, saya yakin akan menikmati tantangan bekerja dengan tim di perusahan ini dalam menggembangkan bidang software untuk komunitas online marketer.
Besar harapan saya, ibu bersedia memberi kesempatan untuk membicarakan bagaimana saya bisa memberi kontribusi bagi PT. Ecom Indonesia. Untuk itu, silakan menghubungi saya di nomor telepon (021) 88888888.
Hormat saya, Ani Tyas 0812.0000.0000
Karena HRD atau staf yang mendapat tugas menyeleksi adalah orang sibuk, sebaiknya Anda memberi cara yang mudah bagi mereka untuk menjawab surat Anda. Ini bisa dilakukan dengan menyiapkan surat atau kartu pos jawaban yang dilampirkan bersama surat follow-up Anda. Surat atau kartu pos jawaban itu sudah disertai perangko dan dialamatkan ke alamat Anda. Isi surat atau kartu pos jawaban seperti ini:
Cara di atas biasanya cukup jitu untuk mendapat jawaban. Meskipun kadang jawabannya bukan yang Anda harapkan, tapi setidaknya lebih baik mendapat jawaban daripada terus menerus berharap tanpa ada kepastian.